![]() |
| Inovasi Desa SALUT' yang berlangsung di Desa Bijawang, Kecamatan Ujungloe, Kabupaten Bulukumba. (Ist) |
KABARSINJAI.COM, BULUKUMBA, - Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Panrita Husada Bulukumba memperkuat komitmen pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan mengembangkan Desa Sehat Lansia Bebas Osteoartritis Lutut (Desa SALUT).
Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026, ini hadir sebagai solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia pedesaan melalui edukasi, skrining kesehatan, dan latihan fisioterapi.
Sebagai upaya meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup lansia di wilayah pedesaan, program ini hadir sebagai respons terhadap meningkatnya kasus gangguan sendi lutut pada kelompok lanjut usia yang berdampak pada menurunnya kemampuan mobilitas, produktivitas, dan kemandirian lansia.
Ketua Tim Pelaksana, Irma Suryani menjelaskan, Osteoartritis lutut merupakan salah satu penyakit degeneratif yang paling banyak ditemukan pada lansia dan menjadi penyebab utama nyeri serta keterbatasan aktivitas sehari-hari.
Tentunya, program Desa SALUT dirancang sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan lansia yang dapat mengintegrasikan edukasi, skrining kesehatan, latihan fisioterapi, serta penguatan kapasitas kader kesehatan.
"Melalui Desa SALUT, kami ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa kesehatan lutut dapat dijaga sejak dini melalui pola hidup sehat, aktivitas fisik yang tepat, serta deteksi dini faktor risiko osteoarthritis,” ujarnya, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Irma, program ini diawali dengan survei dan pemetaan kondisi kesehatan lansia di Desa Bijawang. Dari hasil identifikasi wilayah tersebut menunjukkan masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai osteoarthritis lutut serta minimnya layanan kesehatan yang berfokus pada kesehatan sendi lansia.
Sebagai solusi, tim pengabdian yang terdiri dari tiga orang dosen dan dua mahasiswa berkolaborasi melaksanakan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan lutut, pelatihan fisioterapi pada osteoarthritis dan senam lutut lansia, serta pendampingan kader kesehatan.
Selian itu kata Irma, masyarakat diberikan media edukasi berupa booklet panduan, alat fisioterapi dan video panduan latihan mandiri yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
"Dari penyuluhan ini Lansia dan keluarga memperoleh informasi mengenai tanda dan gejala osteoarthritis, faktor risiko yang dapat dikendalikan, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," bebernya.
Sementara itu, latihan fisioterapi pada OA dapat dilakukan secara mandiri menggunakan alat-alat fisioterapi yang telah disediakan, pelatihan senam kesehatan lutut menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati karena memberikan manfaat dalam meningkatkan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot.
"Tidak hanya menyasar lansia, program ini juga melibatkan kader PKK dan kader kesehatan dan pemerintah desa sebagai mitra strategis. Tentunya, kader kesehatan diberikan pelatihan khusus agar mampu menjadi fasilitator dan pendamping lansia dalam menjaga kesehatan lutut secara berkelanjutan," ungkapnya.
Sejalan dengan arah kebijakan pengabdian masyarakat Kemdiktisaintek mendorong hadirnya solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, program Desa SALUT diharapkan mampu menjadi model pemberdayaan lansia yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
"Melalui pengembangan Desa SALUT, STIKES Panrita Husada Bulukumba tidak hanya berkontribusi dalam peningkatan kesehatan lansia, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang menghadirkan solusi inovatif bagi masyarakat," pungkasnya.
Dengan program ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya desa ramah lansia yang sehat, mandiri, aktif, dan produktif serta bebas dari dampak disabilitas akibat osteoarthritis lutut. (*)




