KABARSINJAI.COM - Musim hujan di Sulawesi Selatan diprediksi datang lebih lambat dari biasanya akibat pengaruh fenomena El Nino yang saat ini masih berada pada kategori sangat kuat. Kondisi ini membuat pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah antisipasi, terutama menghadapi potensi kekeringan dan bencana hidrometeorologi.
Hal tersebut disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Ayi Sudrajat, dalam press release Prediksi Musim Hujan 2026/2027 yang digelar BMKG melalui Balai Besar MKG Wilayah IV Makassar di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (29/9/2026).
Ayi menjelaskan, musim hujan yang biasanya mulai berlangsung pada Oktober diperkirakan mengalami pergeseran hingga November, Desember, bahkan Maret 2027 di sejumlah wilayah.
Sekitar 25 persen wilayah Sulawesi Selatan diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Wilayah yang diperkirakan lebih awal memasuki musim hujan antara lain Luwu Utara, Toraja Utara, Tana Toraja, Palopo, dan Enrekang.
"Posisi El Nino saat ini masih di sangat kuat. Salah satu dampaknya jadi mundurnya musim hujan," ujar Ayi.
Meski El Nino diperkirakan masih bertahan hingga 2027, intensitasnya disebut mulai menurun pada Maret, April, dan Mei hingga berada pada kategori lemah.
"Karena El Nino ketemu musim hujan, makanya dampaknya hanya menimbulkan bergesernya musim hujan. Jadi kalau ada ungkapan El Nino diprediksi sampai tahun depan, betul El Nino-nya, tapi 2026–2027 kita masuk fase musim hujan," jelasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Bupati Sinjai, A. Mahyanto Mazda, meminta perangkat daerah mulai menyiapkan langkah antisipasi berdasarkan informasi iklim dari BMKG.
Menurutnya, prediksi mundurnya musim hujan perlu menjadi perhatian, khususnya dalam menjaga ketersediaan air bersih dan mengantisipasi dampaknya terhadap sektor pertanian.
"Informasi ini sangat berharga bagi kami di Kabupaten Sinjai. Dengan mengetahui bahwa musim hujan akan datang lebih lambat, kami bisa mempersiapkan langkah-langkah mitigasi yang lebih terukur, terutama untuk sektor pertanian dan ketersediaan air bersih yang cukup," kata Mahyanto.
Ia juga meminta koordinasi lintas sektor diperkuat hingga tingkat kecamatan dan desa, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan maupun bencana hidrometeorologi.
Selain persoalan ketersediaan air, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan selama periode kering. Salah satunya dengan mengurangi aktivitas pembakaran sampah yang dapat memicu kebakaran serta mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG.
"Saya ingatkan kepada OPD terkait di Sinjai untuk segera menetapkan langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, termasuk memastikan ketersediaan air bersih dan mendukung sektor pertanian dengan informasi iklim yang tepat waktu," pungkasnya.
(**)




