KABARSINJAI.COM - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan beras premium tidak dalam kondisi langka meski sempat ditemukan rak kosong di sejumlah gerai ritel modern.
Pemerintah menyatakan stok Beras premium masih tersedia di pasaran, termasuk produk dari Perum Bulog dan ID Food.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pemerintah telah melakukan pemantauan langsung ke lapangan dan mendapati pasokan beras premium masih tersedia di sebagian besar ritel.
"Sebenarnya tidak langka. Kalau dibilang langka, tidak. Kami juga turun bersama tim, ada beberapa ritel yang kosong, tapi sebagian ritel masih ada. Beras Bulog masih ada. Beras premium masih ada dengan berbagai merek, termasuk beras dari ID Food," ujar Ketut, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Ketut, harga beras premium memang mengalami fluktuasi, tetapi masih berada di kisaran yang tidak jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET). Berdasarkan pemantauan Bapanas per 24 Juli 2026, rata-rata harga beras premium secara nasional mencapai Rp 15.966 per kilogram.
Angka tersebut merupakan rata-rata harga di tiga zona HET.
Khusus di Zona I yang meliputi Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi, harga beras premium tercatat Rp 15.224 per kilogram atau sekitar 2,17 persen di atas HET yang ditetapkan sebesar Rp 14.900 per kilogram.
Ketut mengatakan, kenaikan harga tersebut dinilai masih dapat ditoleransi mengingat konsumen beras premium umumnya berasal dari kelompok masyarakat menengah ke atas. "Kalau dilihat dari harga, relatif, tapi ada beberapa yang stabil. Kalau menengah ke atas, naik sedikit, oke lah. Tolong jangan juga teriak yang menengah ke atasnya," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah tetap menjalankan berbagai program intervensi untuk menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga kenaikan harga beras premium dapat diimbangi dengan bantuan bagi kelompok yang membutuhkan.
Program tersebut antara lain penyaluran beras melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras.
Sejak Januari hingga Juli 2026, pemerintah telah menyalurkan sekitar 1,4 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Jumlah tersebut terdiri atas penyaluran beras SPHP pada Januari-Februari sebanyak 221.050 ton, SPHP periode Maret-Juli sebanyak 520.830 ton, serta bantuan pangan tahap pertama sebanyak 662.880 ton. Ketut juga mengingatkan agar kondisi perberasan tidak hanya dilihat dari sisi hilir, tetapi juga mempertimbangkan kondisi petani di hulu.
"Kita jangan melihat di hilir saja. Kita harus melihat di hulu. Arahan daripada Bapak Presiden Prabowo adalah swasembada. Kalau kita ingin swasembada, tentu petani kita sedang nyaman-nyamannya sekarang, sangat nyaman berproduksi," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak boleh terjadi kelangkaan beras di tengah stok nasional yang disebut masih melimpah.
Menurut Amran, stok beras pemerintah saat ini mencapai 5,2 juta ton, tertinggi sejak Indonesia merdeka. Untuk menampung stok tersebut, pemerintah telah menyewa tambahan kapasitas gudang sebesar 2,3 juta ton di luar kapasitas gudang Bulog yang mencapai 3 juta ton.
Amran juga meminta pelaku usaha tidak memainkan harga beras di pasaran.
Pemerintah Tegaskan Beras Premium Aman, Harga Masih Dekati HET
Ia mengatakan pemerintah bersama Satgas Pangan Polri akan terus melakukan pengawasan dan menindak pihak yang terbukti melakukan pelanggaran. "Jangan mempermainkan harga di lapangan. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak," kata Amran. (Kompas.com)


