,

Menu Utama

Angka Kelahiran Indonesia Turun Drastis, BPS Sebut Efek Program KB

, Senin, Juli 27, 2026 WIB Last Updated 2026-07-27T05:42:16Z

 



KABARSINJAI.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total fertility rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan setiap perempuan Indonesia sepanjang masa reproduksinya turun tajam dalam lebih dari lima dekade terakhir. 


Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo mengatakan, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan TFR Indonesia kini mencapai 2,13 anak per perempuan usia reproduksi 15 hingga 49 tahun.


Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan awal 1970-an yang mencapai sekitar 5,6 anak per perempuan.


"Program keluarga berencana tidak langsung memberikan hasil ketika diluncurkan pada 1970 karena membutuhkan proses perubahan perilaku di masyarakat,” ujar Sonny dalam program Naratama Kompas.com bertema Hitung Mundur Bonus Demografi: Peluang dan Tantangan Indonesia, dikutip Senin (27/7/2026).


“Artinya, rata-rata keluarga Indonesia kini memiliki sekitar dua anak," lanjut Sonny.


Menurut dia, keberhasilan tersebut tidak lepas dari program Keluarga Berencana (KB) yang mulai dijalankan pemerintah pada awal 1970-an.


Meski begitu, perubahan perilaku masyarakat dalam merencanakan jumlah anak membutuhkan waktu sehingga dampaknya baru terlihat sekitar dua dekade kemudian.


Walau angka kelahiran terus menurun, jumlah penduduk Indonesia tetap bertambah. Sonny menjelaskan kondisi itu dipengaruhi fenomena population momentum, yaitu besarnya kelompok penduduk yang memasuki usia reproduksi secara bersamaan


Generasi yang lahir setelah 1990, kata dia, cenderung mempertahankan pola keluarga kecil karena nilai nilai program KB telah mengakar di masyarakat. 


Selain program KB, Sonny menilai peningkatan kualitas layanan kesehatan ikut mendorong penurunan angka kelahiran. Pada masa lalu, tingginya angka kematian bayi membuat banyak keluarga memilih memiliki banyak anak.



"Sekarang kondisinya sudah berbeda. Akses layanan kesehatan, pemeriksaan kehamilan, hingga pelayanan ibu dan anak jauh lebih baik sampai ke tingkat desa,” ujar dia.



“Karena tingkat kelangsungan hidup anak semakin tinggi, masyarakat merasa dua anak sudah cukup dan tidak lagi merasa perlu memiliki banyak anak seperti generasi sebelumnya," tegas Sonny.


(**)

Iklan