,

Menu Utama

Kemarau 2026 Makin Kering, BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan dan Karhutla

, Selasa, Agustus 25, 2026 WIB Last Updated 2026-08-25T09:32:15Z




KABARSINJAI.COM - Sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau 2026 dengan kondisi yang cenderung lebih kering. 


BMKG mencatat 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026.


Kondisi kering diperkuat oleh El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat dan IOD yang berada dalam fase positif.


Puncak musim kemarau paling banyak diprediksi terjadi pada Agustus 2026, sementara sebagian wilayah lainnya mengalami puncak kemarau pada Juli dan September.


BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dari kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.


Curah hujan selama musim kemarau juga diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dibandingkan kondisi normal.


Musim kemarau 2026 diperkirakan dapat berlangsung hingga September-Oktober 2026.


BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kekeringan, penurunan kualitas udara, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.


Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada dalam fase positif.


BMKG menjelaskan, El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat, disertai IOD positif, menunjukkan berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia.


Kondisi tersebut turut memperkuat kecenderungan atmosfer yang lebih kering di sebagian besar wilayah


Sejalan dengan kondisi tersebut, pada Dasarian III Agustus 2026, sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0-50 milimeter per dasarian.


Sementara itu, sekitar 13,38 persen wilayah lainnya diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50-150 milimeter per dasarian.


"Berkurangnya curah hujan tersebut berimplikasi pada sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di sebagian wilayah Indonesia," tulis BMKG dalam keterangannya.






Iklan