![]() |
| Foto / Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif foto beraama usai menerima bantuan untuk penanganan Flu Burung di Kabupaten Sinjai |
KABARSINJAI.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai menerima sejumlah bantuan dari pemerintah pusat dan provinsi untuk mendukung penanganan penyebaran virus Flu Burung yang menyerang ternak ayam di wilayah tersebut.
Bantuan itu diterima langsung Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif, di Rumah Jabatan Bupati Sinjai, Senin (12/10/2026). Selain vaksin, bantuan yang disalurkan juga berupa cairan disinfektan dan alat pelindung diri (APD).
Bupati didampingi Staf Ahli Bupati A. Himawan Saleh dan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Sinjai, Syamsul Alam, saat menerima bantuan tersebut.
Bantuan berasal dari Kementerian Pertanian RI melalui Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros.
Ratnawati mengungkapkan rasa syukur atas respons cepat pemerintah pusat dan provinsi terhadap penanganan flu burung di Kabupaten Sinjai.
Menurutnya, hingga 12 Oktober 2026, kasus kematian ayam yang terdampak dilaporkan mencapai sekitar 4.940 ekor dan tersebar di 23 desa pada tujuh kecamatan.
Ia menilai bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah dalam mendukung masyarakat, khususnya peternak ayam yang terdampak penyebaran penyakit tersebut.
"Alhamdulillah, berkat kerja sama yang baik, pemerintah pusat maupun provinsi sudah merespons dengan baik. Dalam jangka tiga hari dari kemarin setelah pertemuan, hari ini sudah terima bantuannya dan siap kita salurkan. Hari ini kita menerima vaksin 150.000 dosis, ditambah dengan disinfektan dan APD dan bantuan lainnya," ujar Ratnawati.
Ia menegaskan, Pemkab Sinjai melalui DPKH terus melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
Ratnawati juga mengajak masyarakat yang memelihara ayam untuk menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar serta segera melaporkan apabila ditemukan kasus kematian unggas yang tidak biasa.
Pemerintah daerah, lanjutnya, juga mulai melakukan pendataan untuk menentukan ternak yang menjadi sasaran program vaksinasi.
"Harapannya kita mengajak semua masyarakat melakukan pembersihan di masing-masing rumahnya yang punya ternak, lalu melaporkan kalau ada kejadian di sekitarnya. Insyaallah ayamnya yang akan divaksin sudah mulai data juga," katanya.
Sementara itu, Kepala DPKH Sinjai, Syamsul Alam, menjelaskan bahwa populasi ayam di Kabupaten Sinjai saat ini mencapai lebih dari satu juta ekor. Dengan jumlah tersebut, pemerintah daerah menargetkan vaksinasi terhadap sekitar 15 hingga 20 persen populasi ayam.
Namun, vaksinasi akan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan ternak serta pemetaan wilayah yang terdampak.
Syamsul menjelaskan, vaksinasi diperuntukkan bagi ayam yang masih sehat. Sementara itu, ayam yang telah sakit atau berada di wilayah tertular tidak menjadi sasaran vaksinasi, melainkan ditangani melalui langkah lain, seperti penyemprotan disinfektan dan pemberian vitamin.
"Jadi vaksin itu secara teori untuk ayam yang sehat. Kalau yang sudah sakit tidak perlu lagi divaksin karena bisa saja mati. Ini akan dipetakan, daerah mana yang tertular. Yang tertular itu tidak divaksin lagi. Kita hanya melakukan penyemprotan dan pemberian vitamin," jelasnya.
Ia menambahkan, pemetaan dilakukan hingga tingkat dusun agar pelaksanaan vaksinasi lebih tepat sasaran. Apabila ditemukan kasus flu burung di satu dusun, vaksinasi dapat diarahkan ke wilayah lain yang belum terindikasi tertular.
Menurut Syamsul, dokter hewan dan petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) telah melakukan pemetaan untuk menentukan wilayah prioritas vaksinasi.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung upaya pengendalian penyebaran flu burung sekaligus melindungi populasi ayam yang masih sehat di Kabupaten Sinjai.
(**)




