,

Menu Utama

Pemkab Sinjai Luncurkan Gerakan Tracing TBC Terintegrasi CKG, Sasar 6.400 Warga

, Senin, September 07, 2026 WIB Last Updated 2026-09-07T05:58:03Z

 

Foto / Gerakan Serentak Tracing Tuberkulosis (TBC) Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kantor Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara


KABARSINJAI.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai meluncurkan Gerakan Serentak Tracing Tuberkulosis (TBC) Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mempercepat penemuan dan penanganan kasus TBC di masyarakat. Gerakan ini menyasar 6.400 warga pada 64 lokus di Kabupaten Sinjai selama September hingga November 2026.


Peluncuran gerakan tersebut dibuka Sekretaris Daerah Kabupaten Sinjai, Andi Jefrianto Asapa, di Aula Kantor Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara, Senin (7/9/2026).


Gerakan ini diarahkan pada penemuan kasus secara aktif melalui tracing, skrining, dan deteksi dini yang terintegrasi dengan layanan CKG, terutama bagi kontak erat penderita TBC serta masyarakat yang memiliki faktor risiko.


Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sinjai, dr. H. Kahar Anies mengatakan TBC masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius secara global maupun nasional. Berdasarkan Global TB Report 2025, Indonesia diperkirakan memiliki 1,08 juta kasus TBC dengan angka kematian sekitar 126 ribu kasus per tahun.


Di Sinjai, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 4.100 orang terduga TBC telah menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut ditemukan 371 kasus TBC. Artinya, sekitar satu kasus ditemukan dari setiap 11 suspek yang diperiksa.


Data tersebut, kata dr. Kahar menunjukkan pentingnya memperluas skrining dan deteksi dini. Penemuan kasus secara aktif diperlukan agar masyarakat yang terinfeksi segera memperoleh pengobatan sekaligus mencegah penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat.


Tracing dan skrining dalam gerakan ini diprioritaskan kepada kontak serumah dan kontak erat penderita TBC. Layanan CKG juga diperluas bagi kelompok berisiko, di antaranya penderita Diabetes Melitus, masyarakat dengan malnutrisi atau stunting, Orang dengan HIV (ODHIV), perokok, penghuni boarding school, serta warga dan petugas binaan pemasyarakatan.


Selain pemeriksaan, program ini memperkuat peran kader dalam pendataan, edukasi, dan mobilisasi masyarakat. Cakupan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kelompok yang memenuhi syarat juga diharapkan meningkat.


Sementara itu, Sekda Sinjai, Andi Jefrianto Asapa menegaskan penanggulangan TBC membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dan tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Menurutnya, integrasi tracing TBC dengan CKG menjadi langkah konkret untuk memastikan kelompok berisiko mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin.


“Jangan sampai ada masyarakat yang memiliki gejala atau faktor risiko tetapi tidak mendapatkan pemeriksaan. Melalui tracing dan CKG ini, kita ingin memastikan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan sedini mungkin,” ujarnya.


Andi Jefrianto mengajak pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, tenaga kesehatan, kader, serta masyarakat bersama-sama menyukseskan gerakan tersebut. Ia juga menekankan pentingnya edukasi untuk meningkatkan kesadaran sekaligus menghilangkan stigma terhadap penderita TBC.


“Semakin cepat ditemukan, semakin cepat ditangani dan semakin besar peluang kita memutus rantai penularannya,” kata Andi Jefrianto.


Ia berharap gerakan yang berlangsung hingga November 2026 tersebut tidak berhenti pada skrining, tetapi dilanjutkan dengan pengobatan dan tindak lanjut terhadap setiap terduga maupun penderita TBC, termasuk pemberian TPT bagi kelompok yang memenuhi syarat. “Ini adalah kerja bersama. Pemerintah hadir memastikan layanan tersedia, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dan kolaborasi semua pihak,” pungkasnya.


Iklan