KABARSINJAI.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan terkait kondisi El Nino di Indonesia.
Berdasarkan keterangan BMKG, fenomena El Nino dilaporkan masih bertahan dan telah mencapai level sangat kuat dengan Indeks Nino 3.4 melebihi angka 2.
Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama mundurnya awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Dikutip dari akun Instagram @infobmkg, BMKG memprediksi fenomena El Nino ini baru akan berakhir pada akhir caturwulan I tahun 2027.
Kendati demikian, dampak kekeringan yang ditimbulkannya diperkirakan akan selesai seiring dimulainya awal musim hujan.
Akibat kedatangan musim hujan yang terlambat, masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi kekeringan yang masih akan berlanjut hingga Oktober.
WIlayah yang diimbau waspada terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sektor Kesehatan: Langkah pencegahan perlu diperketat melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan larvasidasi. Fasilitas kesehatan juga diminta bersiap mengantisipasi potensi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) serta penyakit yang muncul akibat genangan air pascahujan atau banjir.
Kebencanaan: Masyarakat dan pemerintah daerah diimbau tetap waspada terhadap ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada bulan Oktober akibat mundurnya awal musim hujan. Di sisi lain, antisipasi bencana banjir dan tanah longsor juga harus disiapkan saat memasuki awal dan puncak musim hujan.
Pihak BMKG menegaskan akan terus memperbarui prediksi iklim secara berkala seiring perkembangan kondisi iklim global dan nasional. Informasi resmi terbaru dapat dipantau langsung melalui kanal publik BMKG.
Rekomendasi Langkah Antisipasi Berbagai Sektor
Guna meminimalkan dampak iklim ekstrem ini, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi strategis bagi lintas sektor:
Sektor Pangan: Sektor pertanian diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam lebih pendek. Selain itu, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) perlu ditingkatkan.
Sumber Daya Air: Upaya yang perlu dilakukan mencakup pemanfaatan air hujan, identifikasi potensi cekungan air tanah serta lokasi sumur bor, hingga pengoptimalan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan.
Sektor Energi: Pengelola infrastruktur energi disarankan mengatur inflow dan elevasi waduk serta pelepasan air secara proporsional demi menjaga operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).




