,

Menu Utama

OPINI: Investasi Pendidikan Perempuan bagi Masa Depan Bangsa

, Sabtu, Mei 02, 2026 WIB Last Updated 2026-05-02T02:05:04Z
Foto/ Rahmawati. SE. ME


KABARSINJAI.COM -  Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum untuk meneguhkan kembali bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara dan fondasi utama kemajuan bangsa. 


Semangat tersebut terus diperkuat melalui kebijakan pendidikan terbaru. Pada tahun 2025, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang penyesuaian kurikulum nasional sebagai langkah strategis agar pendidikan Indonesia selaras dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik masa depan.  


Namun, di tengah perkembangan tersebut, masih terdapat pandangan yang membatasi perempuan dalam menempuh pendidikan tinggi. 


Perempuan kerap dianggap cukup berada di ruang domestik, tanpa perlu melanjutkan studi terlalu jauh. 


Cara pandang seperti ini perlu diubah, sebab pendidikan perempuan sesungguhnya merupakan investasi besar bagi masa depan bangsa.


Perempuan yang berpendidikan tidak hanya meningkatkan kualitas dirinya, tetapi juga memberi dampak luas bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat. 


Seorang perempuan yang memiliki akses pendidikan tinggi cenderung lebih siap menghadapi tantangan ekonomi, lebih sadar pentingnya kesehatan keluarga, serta lebih mampu mendampingi tumbuh kembang anak secara optimal. 


Dalam banyak keluarga, ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari seorang ibu, anak belajar bahasa, nilai moral, kedisiplinan, dan semangat untuk meraih cita-cita.


Pengalaman pribadi saya menjadi bukti bahwa perempuan mampu menjalankan banyak peran sekaligus tanpa harus meninggalkan cita-cita akademiknya. 


Sebagai seorang ibu muda, pekerja kantoran di Universitas Islam Ahmad Dahlan Sinjai, dan perempuan yang baru menyelesaikan studi Magister Ekonomi Syariah, saya meyakini bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang mengenal batas usia, status, maupun gender. 


Menjadi ibu bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberi teladan kepada anak.


Di era modern, negara justru mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang adaptif, inovatif, dan inklusif. 


Kurikulum terbaru bahkan mulai membuka ruang bagi penguatan kompetensi masa depan seperti koding, kecerdasan artifisial, dan pembelajaran mendalam. 


Jika negara bergerak maju menyiapkan generasi masa depan, maka masyarakat pun harus bergerak maju dengan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk terus belajar.  


Perempuan tidak boleh dibatasi dalam menuntut ilmu. Membatasi pendidikan perempuan sama halnya dengan membatasi lahirnya generasi unggul di masa depan. 


Ketika seorang perempuan belajar, sesungguhnya ia sedang menyiapkan masa depan anak-anaknya. 


Ketika perempuan diberi ruang untuk berkembang, maka bangsa sedang menanam benih kemajuan jangka panjang.


Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar harus terbuka seluas-luasnya bagi siapa pun, termasuk perempuan. 


Tidak ada alasan untuk meragukan kemampuan perempuan dalam dunia pendidikan, pekerjaan, maupun keluarga. 


Perempuan mampu menjadi ibu yang penuh kasih, pekerja yang profesional, sekaligus pembelajar yang tangguh.


Karena itu, mendukung pendidikan perempuan bukan hanya soal kesetaraan, tetapi strategi nyata membangun Indonesia yang lebih maju. Sebab investasi pendidikan perempuan hari ini adalah jaminan kualitas bangsa di masa depan.


Penulis: Rahmawati, S.E., M.E

(Pengurus Nasyiatul Aisyiyah Sinjai)

Iklan