KABARSINJAI.COM, -Fenomena anak-anak di jalur pendakian kini bukan lagi pemandangan langka. Namun, dibalik foto-foto keren anak-anak di puncak gunung yang viral di media sosial, terdapat isu etis dan medis yang sering kali terabaikan oleh romantisasi publik. Hal itu, membawa kita pada sebuah diskusi yang cukup berlapis. satu sisi, ada semangat untuk memperkenalkan ketangguhan sejak dini, namun disisi lain, ada garis tipis yang memisahkan antara edukasi dan bahaya.
1. Puncak sebagai Medium Aktualisasi Diri
Bagi seorang anak, pendakian bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah aktualisasi diri dalam bentuk yang paling murni. Di gunung, label-label sosial luruh; yang tersisa hanyalah kemampuan kaki untuk melangkah dan mental untuk bertahan.
Membangun Efikasi Diri: Saat seorang anak berhasil mencapai satu pos ke pos lainnya, mereka sedang membangun kepercayaan bahwa mereka mampu menaklukkan tantangan besar.
Koneksi Primal dengan Alam: Di tengah gempuran stimulasi digital, gunung menawarkan realitas yang jujur. Anak belajar bahwa dingin itu nyata, lelah itu valid, dan keindahan memerlukan perjuangan.
2. Bayang-Bayang Risiko Dini
Namun, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme puncak semata. Secara fisiologis, anak-anak bukanlah "miniatur orang dewasa". Mereka memiliki kerentanan sistemik yang disebut sebagai Risiko Dini:
Ancaman Fisiologis: Anak-anak lebih cepat kehilangan panas tubuh (hipotermia) dan sering kali belum mampu mengartikan gejala Altitude Sickness.
Risiko Psikologis: Jika pendakian dilakukan dengan paksaan atau dalam kondisi yang traumatis, alih-alih mencintai alam, sang anak justru bisa mengalami trauma jangka panjang terhadap aktivitas luar ruangan.
3. Garis Tipis: Ambisi Orang Tua atau Kebutuhan Anak?
Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus kritis melihat fenomena ini. Seringkali, aktualisasi yang terjadi bukanlah milik sang anak, melainkan aktualisasi diri orang tua yang diproyeksikan kepada anaknya.
Sebuah pendakian disebut berhasil bukan saat anak sampai di puncak untuk difoto, melainkan saat anak pulang dengan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap alam semesta.
Sintesis: Menuju Pendakian yang Etis
Opini saya adalah pendakian anak sah-sah saja, asalkan orientasinya diubah dari "Peak Oriented" (berorientasi puncak) menjadi "Process Oriented" (berorientasi proses).
Edukasi alam bagi anak haruslah bersifat low-impact dan high-joy. Jangan sampai kita menukar keselamatan mereka demi sebuah narasi keberanian yang prematur. Pada akhirnya, gunung akan tetap berdiri di sana untuk didaki saat mereka dewasa, namun masa kecil yang aman dan bahagia hanya datang satu kali.
Penulis: Ikhsan Putra
(Mahasiswa UIAD Sinjai)









