KABARSINJAI.COM, - Duduklah sebentar. Di luar mungkin sedang riuh, tapi di sini, biarlah hanya ada aroma kopi dan percakapan antara kita.
Pernahkah kamu mampir ke profil media sosial seseorang—mungkin temanmu atau adikmu yang masih remaja—lalu menemukan pemandangan Tidak ada fioto profil, nol unggahan di fieed, namun angka pengikutnya ribuan. Fenomena ini yang belakangan kita kenal sebagai Zero Post. Gen Z, yang lahir dan tumbuh dalam pelukan internet, perlahan-lahan mulai menarik diri, memilih menjadi silent user yang hanya mengintip dari balik tirai digital.
Namun aku ingin bertanya apakah ini adalah bentuk melindungi diri, dimana ditengah luasnya suatu informasi ,yang bisa disalahgunakan orang lain secara sengaja tanpa izin, untuk tujuan yang buruk?
Dulu, kita merasa bahwa hidup baru benar-benar "terjadi" jika ada buktinya di layar. Kita berlomba mengabadikan senja, hingga tawa yang kadang kita atur sudutnya agar terlihat sempurna. Namun, ada kelelahan yang jujur di balik itu semua. Kelelahan akan persepsi dinilai orang lain.
Melihat tren Zero Post ini, aku merasa mereka sedang mencoba mengembalikan sesuatu yang telah lama hilang dari kita: privasi yang sakral. Ada keindahan dalam menjadi anonim. Ada kedamaian saat kita bisa menikmati secangkir kopi tanpa harus berpikir caption apa yang paling puitis untuk mendampinginya. Secara manusiawi, kita semua butuh ruang ketenangan"—sebuah ruang seperti permukaan air yang tenang, lalu kembali tanpa perlu dinilai oleh jempol orang lain.
Selama satu dekade terakhir, media sosial di mana kita merasa selalu diawasi dan dinilai. Gen Z, sebagai penduduk dunia digital, kelompok pertama yang menyadari kepalsuan di balik tirai tersebut.
Dahulu, privasi adalah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma. Kini, di tengah pengawasan data dan jejak digital yang permanen, privasi telah menjadi barang mewah yang mahal harganya. Fenomena silent user mencerminkan kesadaran tajam bahwa setiap foto yang diunggah hari ini bisa menjadi senjata yang menyerang mereka di masa depan.
Dengan memilih menjadi pengamat daripada aktor, Gen Z sedang memetakan ulang batas antara ruang publik dan ruang personal. Ini adalah upaya untuk merebut kembali kendali atas siapa yang berhak melihat sisi rapuh dan nyata dari hidup mereka.
Argumen lama mengatakan bahwa jika sebuah momen tidak diabadikan dan dibagikan, maka momen itu tidak pernah terjadi. Gen Z sedang mematahkan logika usang tersebut. Mereka mulai menyadari bahwa pengalaman yang paling berkesan sering kali adalah pengalaman yang tidak sempat diabadikan karena mereka terlalu sibuk menikmatinya.
menurut saya mungkin Gen Z sedang membuktikan bahwa mereka bisa tetap terhubung secara sosial tanpa harus menjadi komunitas digital.
Pandangan saya mungkin, di tengah kebisingan dunia yang memaksa kita untuk terus bersuara, tindakan paling
revolusioner yang bisa kita lakukan adalah memilih untuk diam dan menikmati hidup tanpa perlu persetujuan dari ribuan pasang mata asing, untuk apa menampikan diri?bukankah lebih indah jika kita menampilkan suatu karya.
Adakah pelukis yang melukis sebuah lukisan indah demi lukisan itu sendiri? - Jalaluddin Rumi
Fenomena ini mengingatkanku bahwa pada akhirnya, kita bukan sekumpulan angka atau text yang tersusun rapi di sebuah data. Kita adalah helaan napas, kegagalan yang memalukan, dan tangis yang tidak perlu disaksikan siapa-siapa. Menjadi silent user bukan berarti mereka tidak punya suara; mereka hanya memilih untuk tidak berteriak di tengah kebisingan yang sudah terlalu pekak.
Kopi kita hampir habis, dan senja mulai meredup di luar sana.
Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri. - Pramoedya Ananta Toer
Penulis: M.Hamsa Izas
(Mahasiswa prodi Komunikasi penyiaran islam UIAD sinjai)









