KABARSINJAI.COM, SINJAI, – Penetrasi internet di Kabupaten Sinjai mencapai 68,05 persen. Angka ini mencerminkan kemajuan digital, namun sekaligus membuka pintu ancaman serius paparan masif iklan dan ajakan judi online terhadap anak-anak.
Banyak orang tua masih beranggapan anak aman saat bermain gawai, padahal praktik judi digital kini menyusup melalui kedok permainan sehari-hari.
Menghadapi krisis ini, Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Sinjai mengambil langkah agresif dengan melatih 270 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 untuk mendeteksi dan menolak jebakan judi online sejak dini pada masa Orientasi Lingkungan Sekolah (MPLS), Kamis (27/8/2026).
Tim Diskominfo Sinjai membongkar fakta bahwa pelajar kini menjadi target operasi bandar judi melalui empat modus utama, Iklan pop-up yang tiba-tiba muncul saat anak memainkan game gratis atau menonton video seperti reels.
Tawaran taruhan skor pertandingan olahraga hingga turnamen E-Sports seperti Mobile Legends. Fitur "Gacha" berbayar dalam game yang memicu kebiasaan bertaruh dengan janji acak.
Iming-iming bonus gratis di awal atau janji untung jutaan rupiah hanya dengan modal Rp10.000, yang dirancang agar pemain merasa mudah menang sebelum akhirnya dikuras habis.
"Judi online berbeda dengan game biasa. Sistemnya dirancang secara acak agar bandar selalu untung dan pemain pasti rugi," tegas Muh Takdir, Kabid Aptika Diskominfo dan Persandian Sinjai.
Hal ini memicu rentetan dampak buruk, mulai dari terkurasnya uang jajan dan tabungan, rusaknya konsentrasi belajar, hingga memicu kecemasan dan perilaku emosional pada remaja. Untuk membentengi diri, para siswa dilatih strategi pertahanan siber praktis.
Mereka diinstruksikan untuk tidak mengklik tautan tidak jelas, menolak keras ajakan teman yang mengajak bertaruh, dan didorong berani melaporkan temuan konten judi kepada guru, orang tua, atau melalui situs resmi aduankonten.id.
Langkah Pemkab Sinjai ini merupakan peringatan keras bagi seluruh ekosistem pendidikan dan keluarga.
"Perlindungan anak saat ini tidak bisa lagi hanya bergantung pada pengawasan fisik, tetapi menuntut literasi digital proaktif agar generasi muda Sinjai tidak menjadi korban kejahatan finansial di ruang siber," jelasnya.
Saat memberikan materi kepada 270 siswa, Muhammad Takdir didampingi Kabid Humas dan Informasi Komunikasi Publik Diskominfo dan Persandian Sinjai, Hj. Ika Mayasari. (*)





